Kau
hadir tanpa aku duga, tanpa kita sengaja, tidak ada rasa cinta sebelumnya tapi
kau seperti menanam benih-benih yang akan tumbuh mekar dan ternyata benar, ia
tumbuh mekar di dalam sanubari di setiap berjalannya waktu, tumbuh mekar
menemani di setiap detak jantung yang disirami oleh setiap sapamu dan dipupuki
oleh kenyamanan yang tak pernah ada sebelumnya. Meskipun kau dan aku jauh
berbeda tapi ternyata perbedaan ini telah memberi pengalaman indah yang tak
akan pernah ku melupakannya, sungguh suatu keadaan yang tak ingin aku
mengakhirinya.
Kini
aku masih mengingat tentang kita, tentang keberakhiran suatu harapan. Harapan
yang muncul saat pertama kau sebut namaku, saat pertama kau tatap mataku dan
aku menatap matamu dengan penuh ragu. Aku masih ingat saat betapa pemalunya aku
di hadapanmu, tertunduk diam duduk dan berharap aku mampu membuatmu jatuh cinta
karena aku tidak sanggup saat harus merasakannya sendirian.
Perbedaan
yang tak biasa ini membuat aku mengerti betapa cinta tak kenal apapun, betapa
aku tak perduli tentang perbedaan kita. Aku merasa Tuhan menghadirkanmu di
hidupku untuk memberi arti lain, untuk sedikit merubah setiap langkah hidupku
yang kau berhasil melakukannya. Aku sadar akan perbedaan kita, tapi apakah
salah untuk rasa yang aku punya?
Suaramu
mengapa begitu membuatku merasa semakin percaya bahwa kaulah yang selama ini
aku nanti? Tatap matamu mengapa begitu membuat aku luluh dan kehabisan kata?
Sedari
awal aku tak pernah bisa percaya pada lelaki sepertimu untuk jatuh cinta pada
wanita sepertiku, namun salahkah jika aku menganggap perhatianmu sebagai rasa
yang ingin kau suguhkan kepadaku?
Aku
semakin tak percaya tentang apa yang kau tunjukkan kepadaku hingga membuat aku merasa
seperti wanita yang paling bahagia.
Aku
semakin tak perduli tentang perbedaan ini, cinta ini sungguh adanya, sayang ini
benar adanya, ketulusan ini sungguh adanya, keseriusan ini yakin niatnya. Sudah
sejauh itukah aku? Aku tak perduli tentang usiamu, pekerjaanmu, statusmu.
Akupun tak melihat setiap gemerlap yang kau gunakan, setiap kemewahan yang kau
miliki. Aku sering mendengar setiap ucapan yang keluar dari mulut orang-orang
yang tak mengerti akan aku dan kau, seakan meragukanku atas rasa yang kupersembahkan
untukmu, sungguh itu tak sedikitpun merubah rasaku untukmu.
Aku
seperti memiliki sandaran yang bisa aku gunakan dikala aku membutuhkannya, aku
seperti memiliki tempat yang nyaman untuk aku yang belum terlalu mengerti
tentang semua ini, seakan kau yang akan berada di sampingku dengan kedewasaanmu
yang membuatku tenang.
Sudah
sejauh itukah aku padamu?
Kakanda...
0 komentar:
Posting Komentar